Widget HTML Atas

Pendidikan Pemuda Indonesia, Angka Partisipasi Sekolah

Dalam satu dekade terakhir, Indonesia telah mencapai kemajuan yang cukup signifikan dalam hal pendidikan. Salah satunya adalah angka partisipasi sekolah yang meningkat. Berikut angka partisipasi sekolah pemuda Indonesia.

Berbagai program dan kebijakan dikeluarkan oleh pemerintah untuk meningkatkan  kuantitas  dan  kualitas  pendidikan  yang merupakan  bentuk  perwujudan  nyata  dari  cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945.

Hal ini berpengaruh secara positif terhadap partisipasi masyarakat, khususnya pemuda, untuk mengenyam pendidikan. Semakin tingginya angka pemuda yang berpartisipasi aktif dalam mengenyam pendidikan merupakan harapan bagi kesuksesan pembangunan nasional.

Saat ini, hanya terdapat 0,86 persen pemuda yang tidak/belum pernah bersekolah. Di sisi lain, dari 99 persen pemuda yang masih dan pernah bersekolah, hanya satu dari empat pemuda yang masih duduk di bangku sekolah pada berbagai jenjang pendidikan, sisanya memilih untuk tidak bersekolah lagi dengan berbagai alasan.

Baca Juga: Pendidikan Pemuda Indonesia, Angka Buta Huruf

Lebih lanjut, pemuda yang masih sekolah terkonsentrasi sebesar 71,42 persen pada kelompok umur 16-18 tahun, sedangkan kelompok umur 19-24 tahun hanya 24,77 persen yang masih sekolah. Hal ini menandakan partisipasi sekolah di pendidikan tinggi masih rendah.


Persentase Pemuda Menurut Partisipasi Sekolah 2017

Pemuda diharapkan ikut berpartisipasi secara aktif untuk bersekolah pada berbagai jenjang pendidikan. Salah satu indikator pendidikan yang mampu menggambarkan partisipasi sekolah penduduk menurut kelompok umur tertentu adalah Angka Partisipasi Sekolah (APS).

Melalui APS, kita dapat mengetahui sejauh mana daya serap jenjang pendidikan terhadap penduduk kelompok umur tertentu. APS yang tinggi menunjukkan tingginya partisipasi sekolah penduduk kelompok umur tertentu.


Angka Partisipasi Sekolah (APS) Pemuda Menurut Kelompok Umur, 2017

Semakin bertambahnya umur pemuda, maka nilai APS yang dihasilkan semakin menurun. Tabel 3.3 memperlihatkan APS paling tinggi terdapat pada kelompok umur 16-18 tahun, diikuti kelompok umur 19-24 tahun dan 25-30 tahun, masing-masing sebesar 71,42 persen, 24,77 persen, dan 2,93 persen.

Hal ini menunjukkan bahwa pemuda pada kelompok umur 16- 18 tahun terlibat secara aktif dalam memanfaatkan fasilitas pendidikan, baik formal maupun nonformal, dimana kelompok usia tersebut merupakan usia sekolah.

Lebih lanjut, semakin meningkatnya umur pemuda, terlihat kesempatan mereka untuk mengenyam pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi semakin terbatas, baik dalam hal biaya, akses dan kemampuan akademis.

Kemudian, dilihat dari kelompok pengeluaran rumah tangga juga terdapat disparitas yang signifikan dalam partisipasi bersekolah. Pemuda dengan kelompok pengeluaran rumah tangga 20 persen teratas menunjukkan partisipasi yang lebih tinggi di setiap jenjang umur.

Hal ini disebabkan biaya pendidikan yang mahal sehingga golongan ekonomi rendah tidak mampu untuk mengenyam pendidikan tinggi. Di sinilah pekerjaan rumah pemerintah untuk terus mewujudkan akses pendidikan yang merata untuk semua.

Baca Juga: Kapan Menikah? Pemuda Indonesia Makin Betah Melajang

Pilar keempat dari SDGs menyebutkan bahwa di tahun 2030 nanti seluruh penduduk kelompok usia sekolah diharapkan telah memiliki akses terhadap pendidikan dasar dan menengah.

Partisipasi sekolah pemuda usia 16-18 tahun belum seluruhnya sekolah. Masih ada 1 dari 3 pemuda usia 16-18 tahun yang tidak/belum pernah sekolah dan tidak bersekolah lagi. Terlebih dalam RPJMN 2014-2019 juga sudah mulai dicanangkan wajib belajar 12 tahun.

Selanjutnya, berdasarkan uraian fakta terkait dengan partisipasi pendidikan pemuda, khususnya kelompok umur 16-18 tahun, maka fokus pembangunan  selanjutnya  tidak  hanya  mengembangkan pendidikan dasar guna mencapai target yang diharapkan.

Namun juga wacana wajib belajar 12 tahun yang digagas sejak tahun 2012 yang sudah mulai dirancang dengan matang mengenai mekanisme pelaksanaannya.

Sumber: BPS Indonesia

Tidak ada komentar untuk "Pendidikan Pemuda Indonesia, Angka Partisipasi Sekolah "