Widget HTML Atas

Angka Kesehatan Pemuda Indonesia Tahun 2017

Pembangunan kesehatan merupakan investasi dalam usaha meningkatkan sumber daya manusia Indonesia. Sebagai motor penggerak pembangunan, pemuda harus selalu berada dalam kondisi sehat. Tapi sudahkah pemuda Indonesia sehat? Berikut angka kesehatan pemuda Indonesia tahun 2017.

Salah satu indikator rendahnya perilaku hidup sehat pemuda ditandai dengan masih adanya keluhan kesehatan yang dicirikan oleh munculnya berbagai gangguan kesehatan baik karena  penyakit  (ringan  atau  akut/kronis),  kecelakaan, kriminalitas, serta hal lainnya. Kondisi seperti ini tidak dapat dibiarkan begitu saja karena dapat mengganggu aktivitas pemuda.
Persentase Pemuda yang Mengalami Keluhan Kesehatan dalam Sebulan Terakhir, 2017
Sumber: BPS - Susenas Kor 2017

Sebanyak 18,53  persen  pemuda mengalami  keluhan  kesehatan  dalam  sebulan  terakhir. Berdasarkan tipe daerah, persentase pemuda yang mengalami keluhan kesehatan di perkotaan dan perdesaan relative tidak terdapat perbedaan (18,79 persen berbanding 18,22 persen).

Di sisi lain, jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, pemuda perempuan yang mengalami keluhan kesehatan persentasenya lebih  tinggi  dibanding  pemuda  laki-laki (20,05  persen berbanding 17,05 persen). Terakhir, berdasarkan kelompok pengeluaran tampak bahwa ada kecenderungan semakin tinggi kelompok pengeluaran angka keluhan kesehatan semakin meningkat.

Selain keluhan kesehatan, pada publikasi ini disajikan pula angka kesakitan pemuda. Pemuda dikatakan sakit jika keluhan kesehatan yang dialami menyebabkan terganggunya kegiatan sehari-hari. Persentase pemuda yang sakit mencapai 8,11 persen.

Sehingga, jika dikaitkan dengan data di atas, dari 18,53 persen pemuda yang mengalami keluhan kesehatan, terdapat persentase sebesar 8,11 persen pemuda mengalami sakit.

Artinya, dapat dikatakan dari 100 orang pemuda, 19 orang diantaranya mengalami keluhan kesehatan, dan 9 orang diantaranya mengalami sakit dalam sebulan terakhir.
Angka Kesakitan Pemuda, 2017

Berdasarkan tipe daerah, angka kesakitan pemuda tidak jauh berbeda di daerah perkotaan maupun perdesaan, dengan angka 7,93 persen berbanding 8,32 persen.

Selanjutnya, dilihat berdasarkan jenis kelamin akan tampak bahwa angka kesakitan pemuda perempuan lebih tinggi dibanding pemuda laki-laki (8,64 persen berbanding 7,58 persen).

Namun demikian, berdasarkan kelompok pengeluaran, tidak terdapat kesamaan dalam pola angka kesakitan dibandingkan dengan angka keluhan kesehatan pada tiap kelompok pengeluaran.

Jumlah hari sakit atau lama sakit mencerminkan derajat kesakitan yang dialami serta bobot penyakit yang diderita. Lamanya sakit setiap orang notabene berbeda tergantung dari jenis penyakit yang diderita. 

Semakin lama seseorang menderita sakit menunjukkan semakin parah sakit yang dideritanya, begitu pula sebaliknya. Secara umum, lama sakit yang diderita oleh pemuda berdasarkan hasil Susenas 2017 adalah kurang dari satu minggu.

Sebanyak 62,31 persen pemuda menderita sakit selama 1-3 hari, 28,97 persen menderita sakit selama 4-7 hari, dan selebihnya menderita sakit lebih dari 7 hari.

BACA JUGA: Jumlah Pemuda Pengguna Internet di Indonesia Tahun 2017

Kondisi ini mengindikasikan dari keseluruhan angka pemuda yang sakit, sebagian besar mengalami sakit yang tidak begitu berat sehingga tidak memerlukan waktu yang lama dalam proses penyembuhan.

Dilihat menurut tipe daerah, terdapat kesamaan pola lamanya sakit pemuda baik di perkotaan maupun perdesaan di mana mayoritas pemuda menderita lama sakit 1-3 hari (64,49 persen di perkotaan dan 59,77 persen di pedesaan).

Pemuda yang tinggal di perdesaan cenderung menderita sakit lebih lama dibanding perkotaan. Kondisi ini terlihat dari persentase pemuda yang tinggal di perdesaan dengan lama sakit lebih dari satu minggu lebih tinggi dibandingkan perkotaan.
Persentase Pemuda yang Sakit Menurut Lamanya Sakit (dalam hari), 2017

Selanjutnya bila dibandingkan menurut jenis kelamin, persentase pemuda laki-laki yang mengalami sakit selama 1-3 hari lebih besar dari pemuda perempuan. Namun demikian, pola yang berbeda terlihat untuk pemuda yang mengalami sakit lebih dari 3 hari di mana persentase pemuda perempuan yang sakit selama 4-7 hari dan 8-14 hari lebih tinggi dibanding pemuda laki-laki.

Sementara lamanya hari sakit lebih dari dua minggu, pemuda laki-laki memiliki persentase lebih tinggi dibanding pemuda perempuan. Untuk mengatasi keluhan kesehatan yang diderita, seseorang  perlu  melakukan  upaya  pengobatan. 

Upaya pengobatan tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas kesehatan atau cukup dengan mengobati sendiri. Pengobatan melalui fasilitas kesehatan dapat berupa berobat jalan atau rawat inap, sedangkan yang dimaksud dengan mengobati sendiri antara lain dengan kerokan, minum jamu, atau membeli obat tanpa menggunakan resep dokter.

Berobat jalan adalah upaya seseorang yang mempunyai keluhan kesehatan untuk memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan  dengan mendatangi tempat-tempat pelayanan kesehatan modern atau tradisional tanpa menginap, termasuk mendatangkan petugas kesehatan ke rumah.

Berobat jalan dapat dilakukan di rumah sakit pemerintah/swasta, tempat praktik dokter/bidan, klinik, puskesmas, atau balai pengobatan.

Berdasarkan Susenas 2017, sebesar 36,35 persen pemuda telah melakukan upaya berobat jalan dalam mengatasi keluhan kesehatan. Berdasarkan tipe daerah, partisipasi pemuda yang berobat jalan relatif sama.

Persentase pemuda yang berobat jalan di perkotaan dan perdesaan sebesar 35,95 persen dan 36,85 persen. Dengan demikian, dapat dikatakan pemuda di perkotaan maupun perdesaan telah memberikan respon yang cukup baik terhadap keluhan kesehatan yang alaminya.

BACA JUGA: Pendidikan Tertinggi dan Rata-rata Lama Sekolah Pemuda

Lain halnya dengan tipe daerah, tampak adanya perbedaan partisipasi pemuda yang berobat jalan menurut jenis kelamin. Data menunjukkan bahwa pemuda perempuan cenderung lebih reaktif terhadap keluhan kesehatan yang dialami.

Persentase pemuda perempuan yang berobat jalan hampir 5 persen lebih tinggi dibanding pemuda laki-laki (38,70 persen berbanding 33,64 persen).
Persentase Pemuda dengan Keluhan Kesehatan yang Pernah Berobat Jalan, 2017

Persentase pemuda yang berobat jalan menurut tempat berobat. Secara umum terlihat bahwa pemuda lebih memilih tempat pengobatan modern dibanding pengobatan tradisional.

Tempat pengobatan modern yang paling banyak dikunjungi tersebut adalah praktik dokter/bidan (39,87 persen), Puskesmas/Pustu (29,01 persen) kemudian klinik/praktik dokter bersama (17,16 persen).

Pola yang hampir sama terjadi baik pada pemuda laki-laki maupun pemuda perempuan dalam hal pemilihan tempat berobat jalan. Persentase pemuda laki-laki yang berobat jalan ke pengobatan tradisional/alternatif dan lainnya sedikit lebih tinggi dibanding pemuda perempuan.
Persentase Pemuda yang Berobat Jalan Menurut Tempat Berobat Jalan, 2017

Sementara itu, kecenderungan memilih pengobatan modern juga dilakukan oleh pemuda yang tinggal baik di perkotaan maupun perdesaan.

Meski begitu, masih terdapat selisih persentase yang cukup besar pada beberapa jenis tempat pengobatan modern, di mana persentase pemuda yang berobat jalan ke klinik/praktik dokter bersama lebih besar di perkotaan dibandingkan di perdesaan.

Selain itu, persentase pemuda yang berobat jalan ke rumah sakit swasta lebih besar di perkotaan dibandingkan perdesaan. Hal ini dapat disebabkan antara lain ketersediaan akses terhadap fasilitas kesehatan yang lebih lengkap di perkotaan dibandingkan di perdesaan.

Lebih jauh lagi, apabila dilihat dari kelompok pengeluaran, pemuda pada kelompok pengeluaran 20 persen teratas lebih banyak yang memilih berobat ke praktik dokter/bidan, sedangkan pemuda pada kelompok pengeluaran 40 persen terbawah lebih banyak yang berobat ke puskesmas dan praktik dokter/bidan.

Dari seluruh pemuda yang mengalami keluhan kesehatan, masih terdapat lebih dari separuh pemuda yang tidak berobat jalan. Mayoritas pemuda yang tidak berobat jalan beralasan karena mengobati sendiri (68,42 persen).

Upaya mengobati sendiri adalah menentukan dan membeli jenis obat tanpa resep dokter/tenaga kesehatan lain termasuk kerokan atau minum jamu.

Kemudian alasan berikutnya adalah merasa tidak perlu, tercatat hampir 30 persen pemuda yang mengalami keluhan kesehatan beralasan merasa tidak perlu berobat jalan. Kedua alasan ini tampak juga menjadi alasan tertinggi pemuda tidak berobat jalan di perkotaan maupun di perdesaan.
Persentase Pemuda dengan Keluhan Kesehatan yang Tidak Berobat Jalan Menurut Alasan Utama Tidak Berobat Jalan, 2017

Sejak tahun 2015, cakupan rawat inap dalam Susenas tidak berkaitan dengan keluhan kesehatan. Hal ini disebabkan perbedaan referensi waktu yang digunakan. Pertanyaan yang  terkait referensi waktu pada rawat inap mencakup setahun terakhir, sementara untuk keluhan kesehatan hanya mencakup sebulan terakhir.

Oleh karena itu, cakupan unit analisis dari rawat inap yang dimaksud adalah pemuda yang pernah dirawat inap dalam setahun terakhir baik mereka yang mengalami keluhan kesehatan selama sebulan terakhir maupun tidak.
Persentase Pemuda yang Pernah Dirawat Inap Setahun Terakhir, 2017

Sebanyak 3,94 persen pemuda pernah dirawat inap dalam setahun terakhir. Berdasarkan jenis kelamin, persentase pemuda perempuan yang pernah dirawat inap hampir tiga kali lebih tinggi disbanding pemuda laki-laki (5,87 persen berbanding 2,04 persen).

Sedangkan berdasarkan kelompok pengeluaran, semakin tinggi kelompok pengeluaran maka persentase pemuda yang dirawat inap juga semakin besar.

Kemudian bila dilihat menurut tempat rawat inap, sebagian besar pemuda dirawat inap di rumah sakit. Sebesar 38,19 persen pemuda dirawat inap di rumah sakit pemerintah dan sebesar 34,82 persen di rumah sakit swasta. Fasilitas yang lebih lengkap menjadi salah satu alasan untuk memilih rumah sakit dibandingkan tempat rawat inap lainnya.




Persentase Pemuda Pernah Dirawat Inap Dalam Setahun Terakhir Menurut Tempat Rawat Inap, 2017

Sementara itu, bila diperhatikan menurut tipe daerah, terdapat perbedaan pemanfaatan rumah sakit pemerintah dan swasta. Pemuda perkotaan lebih banyak dirawat di rumah sakit swasta sedangkan pemuda perdesaan lebih banyak yang dirawat di rumah sakit pemerintah.

Selain itu, persentase pemuda yang dirawat inap di puskesmas/pustu lebih tinggi di perdesaan dibandingkan di perkotaan (21,36 persen berbanding 7,59 persen).

BACA JUGA: Pendidikan Pemuda Indonesia, Angka Partisipasi Sekolah

Apabila dilihat menurut jenis kelamin, pola pemilihan tempat rawat inap antara pemuda perempuan dan laki-laki cenderung sama. Hanya saja, persentase pemuda perempuan yang dirawat inap di praktik dokter/bidan angkanya mencapai 10 kali lebih tinggi dari pemuda laki-laki (12,06 persen berbanding 2,21 persen).

Dari sisi kelompok pengeluaran, pemuda dengan kelompok pengeluaran 20 persen teratas separuhnya memilih rawat inap di rumah sakit swasta. Sementara pemuda dengan kelompok pengeluaran 40 persen terbawah lebih memilih untuk rawat inap di rumah sakit pemerintah dan puskesmas/pustu, hanya sedikit yang memilih rawat inap di rumah sakit swasta.


Persentase Pemuda yang Pernah Dirawat Inap Menurut Lama Dirawat (hari), 2017

Selanjutnya berdasarkan lama rawat inap, sebagian besar pemuda yang pernah dirawat inap membutuhkan waktu tidak lebih dari seminggu. Pemuda yang dirawat inap selama 1-3 hari tercatat sebesar 54,64 persen sedangkan yang dirawat selama 4-7 hari sebesar 37,46 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan pemuda yang pernah dirawat inap dalam setahun terakhir sebagian besar memiliki penyakit yang ringan sehingga waktu yang diperlukan untuk rawat inap tidak terlalu lama.

Sumber: BPS Indonesia

Tidak ada komentar untuk "Angka Kesehatan Pemuda Indonesia Tahun 2017"